Tidak Punya Pengalaman Berarti Tidak Bisa Bekerja? Mitos vs Realita Rekrutmen Tidak Punya Pengalaman = Tidak Bisa Bekerja? Cukup sering Bicara HR melihat dan mendengar keluhan dari para jobseeker . Mereka merasa bahwa perusahaan saat ini cenderung lebih memprioritaskan kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja dibandingkan dengan fresh graduate yang baru lulus. Dari sudut pandang job seeker , mereka menangkap bahwa ada beberapa alasan mengapa perusahaan bersikap demikian: Lebih mudah bagi perusahaan, karena kandidat sudah siap bekerja (berkat pengalaman sebelumnya). Kerja lebih efektif dan optimal, karena kandidat dianggap sudah memahami alur dan proses kerja. Efisiensi waktu dan biaya, karena perusahaan tidak perlu bersusah payah melakukan pengembangan atau pelatihan dari nol (Padahal dari kacamata HR, keengganan untuk berinvestasi pada pelatihan dari nol ini bisa jadi merupakan salah satu dari [3 Ciri Utama Perusahaan Yang Belum Menerapkan People Developmen...
Menampilkan postingan dengan label Employee
INSIGHTS
Postingan
-
by Bicara HR
Jika berbicara tentang apa yang membuat seorang karyawan merasa happy saat bekerja, Bicara HR rasa jawabannya akan sangat beragam. Setiap orang memiliki definisi "happy" yang berbeda. Ada yang merasa bahagia karena mendapatkan gaji yang tinggi, ada yang lebih mengutamakan work-life balance , ada juga yang merasa puas ketika memiliki lingkungan kerja yang suportif atau kesempatan untuk terus berkembang. Melalui tulisan ini, Bicara HR ingin berbagi sudut pandang berdasarkan pengalaman pribadi kami, baik ketika bekerja sebagai karyawan maupun ketika menjalankan peran sebagai HR yang bertanggung jawab dalam People & Organization Development . Tentu saja, ini merupakan sudut pandang saya. Setiap orang sangat boleh memiliki pandangan yang berbeda. Kapan Kami Merasa Happy Sebagai Karyawan? Berdasarkan pengalaman Bicara HR, ada empat hal yang paling berpengaruh terhadap rasa senang dan nyaman ketika bekerja di sebuah perusahaan. 1. Memiliki Work Life Balance yang Sehat ...
-
by Bicara HR
Menjadi Ibu, Istri, dan Pekerja Profesional: Tidak Mudah, Tetapi Sangat Berharga Siapa di sini yang saat ini menjalani peran sebagai working mom ? Saya sangat ingin mendengar cerita dari rekan-rekan semua. Karena kami percaya, setiap working mom memiliki perjalanan yang berbeda. Ada tantangan, ada kebahagiaan, ada rasa lelah, tetapi juga ada begitu banyak momen yang membuat semuanya terasa berarti. (Untuk membantu Anda memetakan arah dan strategi di tengah perjalanan yang tidak mudah ini, kami menyediakan ruang diskusi melalui service [Jasa Konsultasi Karir Untuk Karyawan/JobSeeker] ) . Tidak ada cerita yang benar-benar sama. Dan justru itulah yang membuat setiap perjalanan menjadi begitu istimewa. Rutinitas yang Mungkin Sangat Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari Bagi sebagian working mom, hari bahkan dimulai sebelum matahari terbit. Bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal anak, menyiapkan kebutuhan suami dan juga menyiapkan perlengkapan sekolah anak. La...
-
by Bicara HR
Perusahaan Punya Banyak Karyawan Hebat, Tapi Sulit Bekerja Sama? Tidak sedikit Business Owner yang menyampaikan tantangan serupa ketika melakukan initial meeting dengan kami sebelum menentukan project bersama Bicara HR. Menariknya, permasalahan yang disampaikan sering kali bukan karena perusahaan kekurangan karyawan yang kompeten, Justru sebaliknya. Perusahaan memiliki banyak orang hebat, tetapi masih mengalami kesulitan untuk membangun kerja sama yang efektif sebagai sebuah tim. ( Tantangan mengenai macetnya sinergi dan kolaborasi ini juga kerap terjadi di tingkat manajemen, seperti yang pernah saya bahas pada [3 Alasan Leader Perusahaan Sulit Berkolaborasi Antar Departemen] ). Beberapa kondisi perusahaan yang masih mengalami kesulitan untuk membangun kerja sama tim yang cukup sering Bicara HR temui di antaranya: Perusahaan memiliki banyak karyawan dengan kompetensi yang baik dan mampu bekerja secara individu, tetapi masih sulit bersinergi dalam tim. Perusahaan memiliki kar...
-
by Bicara HR
AI Sebagai Partner Kerja, Bukan Pengganti Manusia Beberapa waktu terakhir, saya cukup sering melihat diskusi mengenai Artificial Intelligence (AI), khususnya tentang penggunaannya dalam membuat konten maupun membantu aktivitas pekerjaan. Ada yang mendukung, ada juga yang masih memiliki berbagai kekhawatiran. Melalui artikel ini, saya ingin berbagi bagaimana pengalaman serta hubungan profesional saya dengan AI, baik dalam pembuatan konten maupun dalam pekerjaan sebagai HR (jika perusahaan Anda membutuhkan pendampingan profesional di bidang manajemen SDM, Bicara HR juga menyediakan layanan [ Jasa Konsultasi HR Untuk Perusahaan ] ) dan Professional Trainer. Apakah Saya Menggunakan AI dalam Pekerjaan? Jawabannya, ya. Namun implementasinya tentu berbeda-beda, tergantung kebutuhan. Untuk konten yang saya bagikan di LinkedIn (sebagai salah satu wadah krusial untuk membangun citra profesional seperti yang kita obrolin di [ Podcast: Personal Branding Bagi Jobseeker ] ), honestly sa...
-
by Bicara HR
7 Ciri Rekan Kerja Red Flag yang Perlu Diwaspadai di Dunia Kerja Dalam dunia kerja, memiliki rekan kerja yang profesional tentu dapat membuat lingkungan kerja terasa lebih sehat dan nyaman. Namun dalam praktiknya, tidak semua rekan kerja memiliki attitude dan cara kerja yang baik. Ada beberapa perilaku yang sebenarnya perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi: Kenyamanan kerja Komunikasi tim Budaya kerja Bahkan kesehatan mental di lingkungan kerja Salah satunya adalah perilaku rekan kerja yang cenderung “red flag”. Lalu seperti apa ciri-ciri rekan kerja red flag yang sering ditemukan di dunia kerja? Bicara HR sudah merangkumnya dalam 7 poin berikut: 1. Cenderung Self-Focused dan Hanya Ingin Didengarkan Salah satu ciri yang cukup sering ditemukan adalah rekan kerja yang hanya ingin didengarkan, tetapi kurang mau mendengarkan orang lain. Dalam diskusi kerja, mereka cenderung: Ingin pendapatnya selalu diikuti Sulit menerima sudut pandang orang lain Dan kurang ...
-
by Bicara HR
4 Jenis Kemarahan Atasan yang Tidak Profesional dan Tidak Perlu Diterima Tim Dalam interaksi profesional antara tim dan pimpinan, ada kalanya atasan menunjukkan emosi, termasuk kemarahan, ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Situasi ini sering menimbulkan pertanyaan: Sebagai tim dengan followership yang baik, apakah kita harus menerima kemarahan tersebut secara profesional? Dari perspektif Bicara HR sebagai professional trainer yang cukup concern pada tema leadership dan followership, jawabannya adalah: š Ya, tetapi tidak semua kemarahan harus diterima begitu saja. Ada batas yang perlu dipahami bersama. Kapan Kemarahan Atasan Masih Bisa Diterima? Dalam konteks profesional, kemarahan masih dapat diterima ketika: Disampaikan dengan tujuan perbaikan Fokus pada pekerjaan atau kesalahan yang terjadi Disampaikan dengan cara yang tetap menghargai individu Karena pada dasarnya, emosi adalah hal yang manusiawi. Namun, ...
-
by Bicara HR
Punya Anak Buah Toxic? Leader Harus Apa Ya? Tidak sedikit ditemukan dalam sebuah tim, ada satu atau dua orang yang cenderung bersikap negatif dalam aktivitas kerjanya. Kadang dimulai dari kata-kata yang kurang baik, bermuka dua, terlihat seringkali memprovokasi, bersikap kurang disiplin, atau bahkan menebarkan energi negatif yang bikin suasana kerja jadi terasa kurang nyaman. Kalau kamu adalah leader, tentu situasi seperti ini tidak dapat didiamkan begitu saja, meskipun tentu bukan suatu hal yang mudah. Di satu sisi kamu ingin menjaga hubungan baik dengan semua anggota tim, tapi di sisi lain kamu juga perlu menjaga atmosfer kerja agar tetap sehat dan produktif. Jadi, apa yang sebaiknya kamu lakukan? Berikut langkah-langkah sederhana yang bisa kamu coba šš» #1 Definisikan dulu “toxic” dalam versi kamu Sebelum menilai seseorang sebagai “toxic”, penting banget untuk mendefinisikan dulu apa makna toxic menurut kamu dan perusahaan. Kenapa ini penting? Karena jika kam...
-
by Bicara HR
Dalam perjalanan karier, kita pasti pernah menemukan perusahaan yang terlihat fokus pada kinerja, tapi sebenarnya belum benar-benar berorientasi pada people development. Berikut tiga ciri utama yang sering muncul berdasarkan pengalaman saya sebagai HR: 1. Belum Memiliki Recruitment Management System yang Komprehensif Proses rekrutmen hanya mengandalkan interview, belum dilengkapi dengan psikotest yang komprehensif. Padahal, hasil psikotest bisa menjadi landasan penting untuk melihat potensi, kompetensi, serta rencana pengembangan karyawan ke depannya. Karyawan baru langsung diminta bekerja tanpa orientasi atau onboarding. Akibatnya, mereka memulai pekerjaan tanpa benar-benar jelas mengenai perusahaannya, namun di sisi lain sudah dituntut langsung mampu bekerja sesuai harapan perusahaan. Belum tersedia dokumen pendukung seperti job description, SOP, atau work instruction. Hal ini membuat karyawan baru kesulitan memahami pekerjaannya secara jelas, sehingga berdampak pa...
-
by Bicara HR
Dalam perjalanan karier ( career journey ), resign tanpa memiliki pekerjaan baru bukanlah hal yang mustahil. Sebagai HR sekaligus pernah berada di posisi karyawan, saya memahami bahwa kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja. Ada banyak alasan yang membuat seseorang akhirnya memutuskan untuk resign meskipun belum mendapatkan pekerjaan pengganti. Tentu, secara ideal akan lebih aman dan tenang bila resign setelah ada kepastian pekerjaan baru. Namun, pada kenyataannya setiap individu punya pertimbangan matang masing-masing š Lalu pertanyaannya: A pa saja aktivitas yang sebaiknya dilakukan ketika resign, tetapi belum mendapatkan pekerjaan baru? Apakah harus langsung melamar kerja? Disclaimer: Jawaban ini saya tulis berdasarkan sudut pandang pribadi. Sebelum mendirikan Bicara HR , saya juga pernah berada di posisi karyawan yang resign tanpa memiliki “pekerjaan baru”. Jadi,...
-
by Bicara HR
Jika pertanyaannya adalah, seberapa penting menjaga hubungan baik dengan atasan? Dalam PoV HR Development tentu jawabannya adalah sangat penting. Kenapa sangat penting? karena pada dasarnya memiliki hubungan profesional yang baik dengan atasan adalah salah satu kunci utama hasil atau performa kerja yang baik. Mudahnya saya ilustrasikan sebagai berikut: jika kamu adalah staf atau bagian dari sebuah tim dan memiliki pimpinan atau atasan langsung, instruksi kerja yang dilakukan tentu akan diberikan oleh atasan, begitupun dengan report dan evaluasi yang akan atasan berikan atas pekerjaan yang kamu lakukan. Kebayang nggak sih jika pada proses relasi profesional diatas, ternyata hubungan kamu dengan atasan tidak terjalin dengan baik atau bahkan terjalin cukup buruk? koordinasi pekerjaan seperti ilustrasi di atas tentu akan sulit berjalan dengan baik. Hal tersebut sedikit banyak akan berdampak pada kualitas output pekerjaan yang kamu lakukan dengan kata lain performa kerja kamu. Bukan hanya s...
-
by Bicara HR
Pernah nggak ketemu sama rekan kerja yang prioritas hidupnya adalah mengurusi hidup orang lain? KPI pribadinya bukan hanya pekerjaannya, tetapi mengurusi pekerjaan orang lain? (Yang jelas-jelas bukan urusannya) Kalau bertemu yang seperti ini harus apa? Sini saya kasih 3 hal simple yang applicable untuk dilakukan: 1. Tenang, stay cool! Yang kurang valuable, seringkali lebih sering mencari perhatian ketimbang yang benar-benar valuable, setuju nggak? Jika kamu menanggapi dan juga memberikan feedback dengan pola yang sama dengan yang individu tersebut lakukan, hasilnya bisa jadi berdampak kurang efektif pada pekerjaan atau performa kerja kamu. Lain halnya jika kamu tetap tenang menghadapi isu atau hal-hal toxic yang dilakukan oleh individu tersebut, biasanya suasana akan lebih kondusif, karena yang dipermasalahkan tidak pernah menanggapi Dan jika hal ini secara konsisten dilakukan, maka cepat atau lambat targetnya akan berganti ke orang lain (yang dianggap lebih mudah reaktif) dar...