Tidak Punya Pengalaman Berarti Tidak Bisa Bekerja? Mitos vs Realita Rekrutmen

Tidak Punya Pengalaman Berarti Tidak Bisa Bekerja? Mitos vs Realita Rekrutmen

Tidak Punya Pengalaman = Tidak Bisa Bekerja?

Cukup sering Bicara HR melihat dan mendengar keluhan dari para jobseeker. Mereka merasa bahwa perusahaan saat ini cenderung lebih memprioritaskan kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja dibandingkan dengan fresh graduate yang baru lulus.

Dari sudut pandang job seeker, mereka menangkap bahwa ada beberapa alasan mengapa perusahaan bersikap demikian:

  • Lebih mudah bagi perusahaan, karena kandidat sudah siap bekerja (berkat pengalaman sebelumnya).
  • Kerja lebih efektif dan optimal, karena kandidat dianggap sudah memahami alur dan proses kerja.
  • Efisiensi waktu dan biaya, karena perusahaan tidak perlu bersusah payah melakukan pengembangan atau pelatihan dari nol (Padahal dari kacamata HR, keengganan untuk berinvestasi pada pelatihan dari nol ini bisa jadi merupakan salah satu dari [3 Ciri Utama Perusahaan Yang Belum Menerapkan People Development]).

Pertanyaannya: Apakah alasan-alasan di atas benar? Mungkin Bapak/Ibu PIC HR perusahaan bisa bantu menjawabnya.

Jika memang benar demikian, rasanya ada beberapa hal mendasar dalam struktur organisasi yang perlu Bicara HR bantu jelaskan lebih dalam.


Memahami Siklus Pengembangan Karir, Promosi Jabatan dan Regenerasi Karyawan

Mari kita lihat kembali bagaimana sebuah perusahaan berjalan:

  • Di dalam struktur organisasi perusahaan, terdapat berbagai level untuk satu fungsi kerja (mulai dari Non-Staff, Staff, Supervisor, Assistant Manager, Manager, dan seterusnya).
  • Masing-masing level tersebut memiliki standar kompetensinya masing-masing. Hal ini tentu sejalan dengan aktivitas kerja dan tanggung jawab yang dilakukan pada level tersebut.
  • Semua level memiliki standar dan kualifikasinya sendiri, dari requirements yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.

Jika ada karyawan yang saat ini berada pada level staff dan akan diberikan promosi jabatan ke level yang lebih tinggi, perlu ada proses pengembangan dan pelatihan. Jika secara kompetensi dirasa sudah memenuhi, maka promosi jabatan dari staff ke supervisor dapat dilakukan.

Lalu, muncul satu pertanyaan logis: Siapa yang akan mengisi posisi staff jika staff sebelumnya dipromosikan ke level supervisor?

Jawabannya tentu saja new joiner atau karyawan baru. Karyawan yang siap untuk diberikan pengembangan dan pelatihan awal (seperti yang umumnya difasilitasi secara terstruktur melalui program [Apa Itu New Employee Training]), agar kedepannya ia juga siap untuk mendapatkan kesempatan pengembangan dan promosi jabatan.

Pertanyaan selanjutnya: Siapakah yang umumnya sesuai atau dicari untuk mengisi level staff awal di perusahaan?

Jawabannya adalah fresh graduate!

Mereka adalah lulusan baru yang mungkin belum memiliki jam terbang atau pengalaman bekerja, namun memiliki semangat untuk belajar agar bisa bekerja sesuai dengan job description yang perusahaan miliki.


Fase Normal dalam Sebuah Career Journey

Maka, tidak memiliki pengalaman bekerja bukan berarti tidak bisa bekerja. (Untuk mengupas lebih jauh dari sudut pandang HR mengenai stigma ini, Anda bisa mendengarkan obrolannya di [Podcast: Apakah Benar Perusahaan Hanya Mencari Jobseeker yang Berpengalaman?]).

Memulai dari nol tanpa pengalaman adalah fase yang sangat umum terjadi dalam career journey seseorang. Namun, agar proses regenerasi ini berjalan lancar bagi kedua belah pihak, ada catatan penting yang harus diperhatikan:

1. Untuk Job Seeker: Tunjukkan Semangat Belajar

Sebisa mungkin, tunjukkan antusiasme dan semangat belajar yang tinggi untuk memahami hal-hal baru yang relevan dengan pekerjaan Anda. (Bagi Anda yang baru lulus, panduan langkah awal agar lebih siap bersaing juga bisa disimak di [Podcast: Persiapan Mencari Kerja Untuk Fresh Graduate]).

Ubah mindset dan cara komunikasi Anda.

Hindari mengatakan: "Saya tidak bisa karena belum pernah melakukan."

Ganti menjadi: "Saya memang belum bisa melakukan, namun saya bersedia dan bisa belajar untuk melakukan hal tersebut."

2. Untuk Perusahaan: Jadilah Bagian dari Employee Development

Perusahaan harus menyadari bahwa mereka adalah bagian dari proses pengembangan karyawan. (Jika perusahaan Anda membutuhkan pendampingan profesional untuk menyusun sistem dan struktur pengembangan SDM yang tepat, Bicara HR siap membantu melalui [Jasa Konsultasi HR Untuk Perusahaan]). Berikan ruang bagi karyawan baru untuk bertumbuh.

Hindari mengatakan: "Kamu tidak punya pengalaman kerja, jadi tidak bisa bekerja di perusahaan ini."

Ganti menjadi: "Kamu memang belum memiliki pengalaman kerja, namun dengan standar dan sistem pengembangan yang perusahaan miliki, ditambah semangat belajarmu yang tinggi, kedepannya kamu akan bisa bekerja dengan baik di perusahaan ini."

Membangun tim yang solid bukan hanya tentang mencari yang sudah ahli, tapi juga tentang bagaimana kita bersedia mencetak talenta-talenta baru yang potensial. (Untuk membantu perusahaan Anda mengidentifikasi potensi kandidat secara akurat sejak proses rekrutmen, Anda dapat memanfaatkan layanan [Jasa Assessment Untuk Calon Karyawan] dari Bicara HR).

Semoga bermanfaat!

Komentar