7 Ciri Rekan Kerja Red Flag yang Perlu Diwaspadai di Dunia Kerja
Dalam dunia kerja, memiliki rekan kerja yang profesional tentu dapat membuat lingkungan kerja terasa lebih sehat dan nyaman.
Namun dalam praktiknya, tidak semua rekan kerja memiliki attitude dan cara kerja yang baik.
Ada beberapa perilaku yang sebenarnya perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi:
- Kenyamanan kerja
- Komunikasi tim
- Budaya kerja
- Bahkan kesehatan mental di lingkungan kerja
Salah satunya adalah perilaku rekan kerja yang cenderung “red flag”.
Lalu seperti apa ciri-ciri rekan kerja red flag yang sering ditemukan di dunia kerja? Bicara HR sudah merangkumnya dalam 7 poin berikut:
1. Cenderung Self-Focused dan Hanya Ingin Didengarkan
Salah satu ciri yang cukup sering ditemukan adalah rekan kerja yang hanya ingin didengarkan, tetapi kurang mau mendengarkan orang lain.
Dalam diskusi kerja, mereka cenderung:
- Ingin pendapatnya selalu diikuti
- Sulit menerima sudut pandang orang lain
- Dan kurang memiliki empati dalam komunikasi. Padahal dalam lingkungan kerja profesional, komunikasi yang sehat seharusnya berjalan dua arah. (Untuk melatih kebiasaan komunikasi yang lebih baik, kamu bisa membaca [3 Hal Sederhana Untuk Dapat Melakukan Komunikasi Secara Efektif]).
Padahal dalam lingkungan kerja profesional, komunikasi yang sehat seharusnya berjalan dua arah.
2. Selalu Ingin Menjadi yang Paling Unggul
Beberapa rekan kerja juga cenderung selalu ingin terlihat paling unggul dibanding orang lain.
Misalnya seperti:
- Kurang senang melihat pencapaian rekan kerja
- Sulit memberikan apresiasi
- Atau selalu ingin menjadi pusat perhatian di lingkungan kerja
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu persaingan kerja yang kurang sehat di dalam tim.
3. Ingin Terlihat Paling Dekat dengan Atasan
Ada juga tipe rekan kerja yang sangat fokus membangun image sebagai orang yang paling dekat dengan atasan. (Fenomena ini sering kali kita sebut dengan istilah "cari muka", dan batasan profesionalnya pernah kita bahas tuntas di [Podcast: Apakah "Cari Muka" Boleh Dilakukan Di Tempat Kerja?]). Tujuannya sering kali bukan untuk membangun komunikasi kerja yang sehat (padahal kita pernah membahas batasan profesionalnya dalam [Seberapa Penting Menjaga Hubungan Baik Dengan Atasan?]), tetapi lebih kepada ingin terlihat paling perform atau paling dipercaya.
Akibatnya, mereka terkadang:
- Berfokus mencari validasi
- Kurang nyaman jika ada rekan kerja lain yang diapresiasi
- Atau mulai membangun kompetisi yang tidak sehat
4. Suka Membicarakan Rekan Kerja Lain di Belakang
Salah satu red flag yang cukup serius adalah ketika seseorang tidak sungkan untuk membicarakan rekan kerja lain di belakang dengan intensi yang tidak profesional.
Terutama jika yang dibahas:
- Hanya opini pribadi
- Belum tentu fakta
- Atau lebih mengarah pada menjatuhkan image orang lain
Karena dalam lingkungan kerja profesional, komunikasi seperti ini justru dapat merusak trust dan hubungan kerja antar tim.
5. Suka Mencari Kesalahan Rekan Kerja
Beberapa orang juga cenderung lebih fokus mencari kesalahan dibanding mencari solusi.
Mereka berusaha mencari kesalahan dalam:
- Pekerjaan
- Komunikasi antar tim
- Maupun kehidupan pribadi rekan kerja lainnya
Padahal lingkungan kerja yang sehat seharusnya membantu tim berkembang bersama, bukan sibuk mencari celah kesalahan orang lain.
6. Mengakui Pekerjaan Tim sebagai Pencapaian Pribadi
Dalam kerja tim, hasil pekerjaan biasanya merupakan kontribusi banyak pihak.
Namun ada juga rekan kerja yang cenderung:
- Mengambil credit pekerjaan tim
- Ingin terlihat paling berkontribusi
- Atau mengabaikan kontribusi anggota tim lainnya
Jika terus terjadi, kondisi ini dapat menurunkan trust dan motivasi kerja dalam tim.
7. Sering Melempar Kesalahan kepada Orang Lain
Ciri red flag lainnya adalah tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan pribadi.
Ketika terjadi masalah, mereka cenderung:
- Mencari kambing hitam
- Menyalahkan rekan kerja lain
- Atau berusaha menjaga image dirinya sendiri. Padahal dalam lingkungan kerja profesional, accountability merupakan hal yang sangat penting. (Di level manajemen, untuk mencegah area abu-abu yang sering dimanfaatkan untuk melempar kesalahan, perusahaan bisa memperjelas alur tanggung jawab tim dengan adanya RACI Document, RACI Document adalah sebuah dokumen atau matriks yang dipakai untuk memperjelas dan memetakan peran serta tanggung jawab setiap orang dalam sebuah tugas, proyek, atau proses kerja. Jika perusahaan membutuhkan bantuan dalam pembuatannya dapat menghubungi pada [Jasa Pembuatan RACI Document])
Padahal dalam lingkungan kerja profesional, accountability merupakan hal yang sangat penting.
Bagaimana Cara Menghadapi Rekan Kerja Red Flag?
Menghadapi rekan kerja seperti ini memang tidak selalu mudah (baca juga panduan pendukungnya di artikel [Cara Menghadapi Rekan Kerja Yang Toxic]). Namun menurut Bicara HR ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar tetap profesional dan menjaga diri sendiri.
1. Jaga Batas Profesional
Tetaplah menjaga hubungan kerja yang profesional dan tidak perlu terlalu masuk ke ranah personal.
Hal ini penting agar komunikasi dan hubungan kerja tetap berjalan secara profesional dan sehat.
2. Berhati-Hati dalam Berkomunikasi
Termasuk dalam membagikan informasi yang bersifat confidential.
Karena beberapa tipe rekan kerja red flag biasanya cukup bermasalah dalam hal integritas.
3. Tetap Tenang dan Tidak Perlu Panik
Jika menghadapi opini atau tuduhan yang tidak sesuai fakta, usahakan tetap tenang.
Karena kepanikan justru sering membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
4. Bersikap Tegas Ketika Ada Hal yang Tidak Benar
Jika ada tindakan yang memang jelas melewati batas profesional, penting untuk tetap bersikap tegas. (Bagi kamu yang merasa kesulitan bersikap tegas karena sifat bawaan, coba dengarkan solusinya di [Podcast: Menjadi Karyawan Yang Gak Enakan, Gimana Ya Cara Mengatasinya?]). Jika tidak selesai diantara 2 belah pihak, atasan langsung maupun HR bisa menjadi solusi untuk membantu hal ini. (Bagi manajemen atau praktisi HR yang membutuhkan pandangan pihak ketiga yang objektif dalam menangani konflik dan masalah culture di internal, [Jasa Konsultasi HR Bersama Bicara HR Untuk Perusahaan] dapat menjadi solusi yang tepat)
Karena jika terus didiamkan, hal tersebut bisa dianggap sebagai bentuk penerimaan.
5. Selalu Gunakan Fakta dan Data
Dalam menghadapi isu atau opini pribadi yang tidak profesional, usahakan tetap merespon menggunakan:
- Fakta
- Data
- Dan komunikasi yang objektif
Hal ini membantu menjaga profesionalisme dan mengurangi konflik yang tidak perlu.
Tidak Semua Rekan Kerja Cocok Menjadi Lingkaran Terdekat
Dalam dunia kerja, profesionalisme bukan hanya tentang kompetensi umum maupun teknis dan performa kerja.
Tetapi juga tentang bagaimana mampu menerapkan basic values yang diperlukan:
- Integritas
- Empati
- Saling menghargai
- Dan berkolaborasi (Agar nilai-nilai dasar ini tidak sekadar menjadi jargon, melainkan benar-benar dipraktikkan untuk mencegah budaya toxic, Bicara HR sangat menyarankan agar perusahaan sudah memiliki Company Values yang dapat menjadi pegangan seluruh karyawan. Jika perusahaan belum memiliki dan tertarik untuk melakukan pembuatan, Bicara HR memiliki service [Jasa Pembuatan Company Values]. Namun jika sudah memilikinya namun belum terlaksana dengan optimal, Bicara HR menyarankan sosialisasi lebih lanjut mengenai setiap poin dari Company Valuesnya. Bicara HR memiliki salah satu jasa untuk membantu proses tersebut dengan mengemasnya dalam bentuk training, jika perusahaan berminat lebih lanjut dalam mengunjungi [Training Implementasi Company Values Perusahaan]).
Karena itu, penting untuk memahami siapa saja orang-orang yang memang baik untuk dijadikan lingkungan terdekat dalam aktivitas kerja di perusahaan.
Dan yang tidak kalah penting, tetap menjaga diri agar tidak menjadi bagian dari penyebab maupun korban dari perilaku red flag tersebut. (Menghindari jebakan lingkungan toxic seperti ini juga menjadi salah satu dari [Podcast: Hal-hal yang perlu dihindari dalam Career Journey Kamu!]).
Semoga bermanfaat š

Komentar
Posting Komentar