Menampilkan postingan dengan label Business Leader

INSIGHTS

Postingan

Jika berbicara tentang apa yang membuat seorang karyawan merasa happy saat bekerja, Bicara HR rasa jawabannya akan sangat beragam. Setiap orang memiliki definisi "happy" yang berbeda. Ada yang merasa bahagia karena mendapatkan gaji yang tinggi, ada yang lebih mengutamakan work-life balance , ada juga yang merasa puas ketika memiliki lingkungan kerja yang suportif atau kesempatan untuk terus berkembang. Melalui tulisan ini, Bicara HR ingin berbagi sudut pandang berdasarkan pengalaman pribadi kami, baik ketika bekerja sebagai karyawan maupun ketika menjalankan peran sebagai HR yang bertanggung jawab dalam People & Organization Development . Tentu saja, ini merupakan sudut pandang saya. Setiap orang sangat boleh memiliki pandangan yang berbeda. Kapan Kami Merasa Happy Sebagai Karyawan? Berdasarkan pengalaman Bicara HR, ada empat hal yang paling berpengaruh terhadap rasa senang dan nyaman ketika bekerja di sebuah perusahaan. 1. Memiliki Work Life Balance yang Sehat ...
Perusahaan Punya Banyak Karyawan Hebat, Tapi Sulit Bekerja Sama? Tidak sedikit Business Owner yang menyampaikan tantangan serupa ketika melakukan initial meeting dengan kami sebelum menentukan project bersama Bicara HR. Menariknya, permasalahan yang disampaikan sering kali bukan karena perusahaan kekurangan karyawan yang kompeten, Justru sebaliknya. Perusahaan memiliki banyak orang hebat, tetapi masih mengalami kesulitan untuk membangun kerja sama yang efektif sebagai sebuah tim. ( Tantangan mengenai macetnya sinergi dan kolaborasi ini juga kerap terjadi di tingkat manajemen, seperti yang pernah saya bahas pada [3 Alasan Leader Perusahaan Sulit Berkolaborasi Antar Departemen] ). Beberapa kondisi perusahaan yang masih mengalami kesulitan untuk membangun kerja sama tim yang cukup sering Bicara HR temui di antaranya: Perusahaan memiliki banyak karyawan dengan kompetensi yang baik dan mampu bekerja secara individu, tetapi masih sulit bersinergi dalam tim. Perusahaan memiliki kar...
3 Hal yang Harus Dilakukan HR Saat Leader Bilang “Tim Saya Tidak Bisa Kerja” “Tim saya tidak bisa kerja, saya mau diganti saja.” Kalimat seperti ini (atau keluhan sejenis yang pernah kita bahas di [ Punya Anak Buah Toxic, Leader Harus Apa Ya? ])  mungkin pernah disampaikan seorang leader kepada HR di perusahaan. Lalu sebenarnya, bagaimana HR sebaiknya merespon kondisi seperti ini? Karena dalam praktiknya, sebelum pembahasan berkembang terlalu jauh menjadi judgement yang subjektif, HR perlu membantu mengarahkan diskusi kembali kepada data dan sistem penilaian kerja yang dimiliki perusahaan. Salah satu respon awal yang bisa diberikan HR adalah: “Boleh dijelaskan yang dimaksud tidak bisa kerja itu seperti apa Bpk/Ibu?” Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting. Karena sering kali penilaian seperti: “Tidak bisa kerja” “Kurang perform” “Kerjanya lambat” “Tidak cocok” Atau “Tidak berkembang” masih cenderung berdasarkan perspektif pribad...
3 Alasan Leader Perusahaan Sulit Berkolaborasi Antar Departemen Di beberapa perusahaan, jumlah leader level managerial mungkin sudah cukup banyak. Namun dalam praktiknya, masih sering ditemukan kondisi seperti: Leader hanya fokus pada target departemennya masing-masing Antar divisi sering mengalami missed communication Kolaborasi lintas departemen belum berjalan optimal Masing-masing tim bekerja dengan prioritas departemen Bahkan antar departemen justru saling berkompetisi, bukan saling mendukung Akibatnya, perusahaan terlihat memiliki banyak leader, tetapi belum benar-benar memiliki sinergi kerja yang kuat antar fungsi kerja. (Punya jabatan leader memang belum tentu punya jiwa kepemimpinan yang merangkul tim lain, fenomena ini pernah kita bahas di [Podcast: Leader? Tapi Kok Gak Punya Leadership? ] ) Padahal dalam operasional bisnis, target perusahaan tidak bisa dicapai hanya oleh satu departemen saja. Dibutuhkan kolaborasi, alignment, dan arah kerja yang sa...
Seberapa Penting People Development Untuk Perusahaan? Di beberapa perusahaan, masih cukup sering ditemukan situasi seperti berikut: Karyawan merasa terlalu hectic bekerja hingga sulit mencari waktu untuk pelatihan dan pengembangan diri Pelatihan dianggap sebagai tambahan pekerjaan yang justru menghambat aktivitas kerja Perusahaan cenderung untuk membatasi pelatihan karena khawatir pekerjaan menjadi tertunda Karyawan diminta belajar sendiri melalui learning by doing tanpa pelatihan yang relevan Budget pelatihan dan pengembangan belum menjadi prioritas karena dianggap menambah cost perusahaan Jika kondisi-kondisi di atas masih sering terjadi, hal tersebut bisa menjadi indikator nyata seperti yang pernah dibahas pada [3 Ciri Utama Perusahaan Yang Belum Menerapkan People Development]   bahwa perusahaan tersebut belum benar-benar berfokus pada aktivitas people development. (Untuk mengetahui lebih jauh kantormu masuk kategori yang mana, coba dengerin obrolannya di [...