Apakah Anda Sudah Benar-Benar Mendengarkan? Ini 5 Tanda Anda Belum Melakukannya
Banyak orang merasa dirinya sudah menjadi pendengar yang baik. Padahal, belum tentu.
Dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan kerja (seperti dinamika yang pernah Bicara HR ulas dalam [Effective Communication Dalam Kehidupan Sehari-Hari]), kita sering kali menganggap bahwa selama telinga kita mendengar apa yang disampaikan oleh lawan bicara, berarti kita sudah mendengarkan. Padahal, mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda.
Mendengar adalah proses yang terjadi secara alami. Sementara mendengarkan membutuhkan perhatian, fokus, dan keinginan untuk benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan oleh orang lain.
Sebagai HR, Bicara HR cukup sering menemukan situasi di mana sebuah kesalahpahaman bukan terjadi karena seseorang tidak bisa berkomunikasi, tetapi karena mereka belum benar-benar mendengarkan.
Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah kita sudah menjadi pendengar yang baik?
5 Tanda Anda Belum Benar-Benar Mendengarkan
Berikut beberapa kebiasaan yang sering terjadi tanpa kita sadari menurut Bicara HR
1. Tidak Fokus dan Melakukan Multitasking Saat Orang Lain Berbicara
Saat seseorang sedang berbicara, apakah perhatian kita benar-benar ada pada percakapan tersebut?
Atau justru sambil membalas chat, membuka laptop, mengecek email, atau memikirkan pekerjaan lain?
Ketika perhatian terbagi, kemungkinan besar kita hanya mendengar suara, tetapi tidak benar-benar memahami isi pembicaraan. Lawan bicara pun biasanya dapat merasakan ketika dirinya tidak mendapatkan perhatian penuh.
2. Terlalu Mendominasi Pembicaraan
Komunikasi yang efektif bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, Justru komunikasi yang baik memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk saling menyampaikan pendapat. (Sikap terlalu dominan yang menutup ruang diskusi ini sering kali menjadi ciri atasan yang kurang baik, seperti fenomena yang kita bahas di [Podcast: Leader? Tapi Kok Gak Punya Leadership?]).
Jika kita lebih banyak berbicara dibanding mendengarkan, ada kemungkinan informasi penting dari lawan bicara akan terlewatkan.
3. Memotong Pembicaraan Karena Merasa Sudah Mengerti
Pernah merasa sudah tahu arah pembicaraan seseorang, lalu langsung memotong dan memberikan respons?
Kami rasa hampir semua orang pernah melakukannya. Padahal, belum tentu apa yang kita pahami sama dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Sering kali, informasi yang paling penting justru muncul di bagian akhir pembicaraan.
4. Terlalu Cepat Menarik Kesimpulan
Salah satu penyebab kesalahpahaman adalah terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Kita merasa sudah memahami situasinya, padahal belum mendapatkan keseluruhan informasi. (Jika Anda ingin mengasah kemampuan komunikasi, empati, dan active listening secara lebih intensif sebagai seorang profesional, Bicara HR memiliki service [Private Training Perorangan] yang dapat menjadi pilihan yang tepat).
Akibatnya, solusi yang diberikan bisa jadi tidak menjawab permasalahan yang sebenarnya sedang dihadapi oleh lawan bicara.
5. Menjawab Sebelum Lawan Bicara Selesai Berbicara
Keinginan untuk segera memberikan jawaban sering kali muncul karena kita ingin membantu.
Namun, jika dilakukan terlalu cepat, lawan bicara justru bisa merasa bahwa pendapatnya belum benar-benar didengarkan.(Padahal, menahan diri untuk fokus mendengar sampai tuntas adalah aturan emas dalam pelayanan profesional, seperti yang pernah diulas pada [Podcast: 4 Poin Wajib Customer Service]).
Memberikan waktu beberapa detik hingga seseorang selesai berbicara sering kali menghasilkan percakapan yang jauh lebih berkualitas.
Mengapa Mendengarkan Sangat Penting dalam Komunikasi Efektif?
Di lingkungan kerja, kemampuan mendengarkan bukan hanya tentang sopan santun. Kemampuan ini sangat berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi (yang pilar-pilar praktisnya juga Bicara HR bahas di [3 Hal Sederhana Untuk Dapat Melakukan Komunikasi Secara Efektif]), kualitas kolaborasi, kecepatan penyelesaian masalah, hingga pencapaian target kerja.
Bicara HR pernah melihat bagaimana sebuah kesalahpahaman kecil berkembang menjadi masalah yang lebih besar hanya karena masing-masing pihak merasa sudah memahami, padahal belum benar-benar mendengarkan satu sama lain. Sebaliknya, ketika setiap orang mau meluangkan waktu untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan respons, diskusi biasanya menjadi lebih terbuka, keputusan lebih tepat, dan hubungan kerja pun terasa lebih sehat.
Komunikasi Efektif Selalu Dimulai dari Kemampuan Mendengarkan
Banyak orang berusaha menjadi pembicara yang baik. Padahal, menjadi pendengar yang baik tidak kalah penting untuk dilakukan. Karena ketika seseorang merasa didengarkan, mereka akan lebih nyaman menyampaikan informasi, lebih terbuka dalam berdiskusi, dan lebih mudah membangun kepercayaan.
Menurut Bicara HR, inilah salah satu fondasi komunikasi yang efektif, baik dalam hubungan kerja, kepemimpinan, maupun kehidupan sehari-hari. (Untuk membekali tim maupun jajaran leader di perusahaan Anda dengan keterampilan komunikasi yang esensial ini, Bicara HR menyediakan program [Inhouse Corporate Training] yang komprehensif).
Jadi, sebelum kita sibuk menyiapkan jawaban terbaik, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah kita benar-benar sudah mendengarkan?
Semoga bermanfaat. š

Komentar
Posting Komentar