Dalam perjalanan karir di dunia Human Resources, setiap individu pasti memiliki pendekatan, prinsip, dan gaya kerja yang berbeda.
Namun, pernahkah kita bertanya:
dari mana semua itu terbentuk?
Menurut Bicara HR, jawabannya sederhana — pengalaman.
Pengalaman bukan hanya membentuk kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir, cara mengambil keputusan, hingga bagaimana kita memperlakukan orang lain dalam pekerjaan.
Saya Talita Zulmi yang sudah berpengalaman dibidang HR selama 13 tahun dan juga menjalani Bicara HR, Berikut adalah refleksi yang membentuk cara saya bekerja sebagai HR hingga saat ini 👇
1. Fokus pada Fairness dan Development
Saya dan Bicara HR menjadi HR yang sangat berfokus pada fairness dan development karena karir kami dimulai dari perusahaan yang memiliki orientasi kuat pada people & organization development.
Lingkungan tersebut membuat:
- Karyawan merasa aman
- Karyawan merasa nyaman
- Proses kerja berjalan dengan lebih sehat
Dari sana saya belajar bahwa:
fairness bukan hanya kebijakan, tetapi fondasi dalam membangun kepercayaan.
2. Menjadi HR yang Agile dalam Menghadapi Dinamika
Kami terbiasa menjadi HR yang agile karena pernah berada di lingkungan manufacturing yang penuh dengan dinamika, keunikan dan kompleksitas di dalamnya.
Dalam kondisi tersebut, kami memahami satu hal penting:
menghindari masalah hanya akan menciptakan masalah baru.
Sebaliknya:
- Menghadapi masalah dengan cepat
- Beradaptasi dengan perubahan
- Menyelesaikan secara progresif
Itulah yang membuat peran HR menjadi jauh lebih efektif, relevan dan berdampak.
3. Concern terhadap Job Seeker Experience
Fokus Kami terhadap job seeker experience terbentuk dari pengalaman pribadi saat menjalani proses recruitment sebagai kandidat.
Kami pernah merasakan:
- Proses yang tepat waktu
- Interaksi yang nyaman
- Pengalaman yang memberikan insight baru
Namun di sisi lain, kami juga pernah mengalami:
- Menunggu tanpa kejelasan
- Interaksi yang kurang nyaman
- Pulang dengan beban yang sulit dijelaskan
Dari sana kami memahami bahwa:
recruitment bukan hanya proses seleksi, tetapi juga pengalaman yang akan diingat oleh kandidat, sehingga sangat penting memberikan best experience pada proses tersebut.
4. Mengutamakan Pendekatan Humanis dalam Leadership
Sebagai HR Leader, kami cenderung mengedepankan komunikasi dan pendekatan humanis.
Kenapa?
Karena kami pernah berada di dua sisi:
- Dipimpin dengan pendekatan humanis
- Dipimpin tanpa pendekatan tersebut
Dan hasilnya sangat terasa.
Pendekatan humanis membuat:
- Tim merasa aman
- Komunikasi lebih terbuka
- Output kerja menjadi lebih efektif dan optimal
Karena pada akhirnya, dalam POV kami:
manusia cenderung merasa lebih nyaman dengan pendekatan yang persuasif, namun tetap diimbangi sikap tegas yang menyesuaikan
Pengalaman adalah Guru Terbaik
Semua pengalaman, baik yang positif maupun yang kurang menyenangkan, selalu membawa pembelajaran.
Bukan hanya untuk:
- Self development
- Tetapi juga untuk improvement yang berdampak pada orang lain
Baik itu:
- Job seeker
- Employee
- Maupun tim yang kita pimpin
Dengan roles & responsibilities yang kita miliki sebagai HR, kita memiliki pilihan:
👉 Menjadi individu yang memberikan dampak positif
atau
👉 Menjadi Individu yang menciptakan atau menjadi bagian dari pengalaman yang kurang menyenangkan bagi orang lain
Karena itu, gunakan setiap peluang untuk improvement dengan sebaik dan sebijak mungkin.
Karena pada akhirnya,
menjadi seseorang yang berdampak positif adalah hal yang sangat membahagiakan. 😊

Komentar
Posting Komentar