Kenapa Hasil Recruitment Dianggap “Tidak Sesuai”?

Ini yang Perlu Dilakukan HR

Dalam dunia recruitment, nggak jarang HR menerima complain dari user terkait kandidat yang baru masuk. Keluhannya bisa macam-macam: kandidat dianggap kurang sesuai ekspektasi, performanya belum maksimal, sampai dibilang tidak cocok dengan budaya tim.

Padahal proses recruitment sudah dilakukan dengan serius.

Lalu, apa penyebabnya? Dan apa yang sebenarnya perlu dilakukan HR untuk menghadapi situasi seperti ini?

Berikut langkah-langkah praktis yang dapat menjadi acuan bagi HR Recruitment 👇🏻

1. Cek Kembali FPTK yang Sudah Disepakati Bersama

Langkah pertama ketika muncul complain adalah meninjau ulang FPTK (Form Permintaan Tenaga Kerja) atau dokumen permintaan karyawan yang sudah disetujui oleh user dan HR.

Fokuskan pada bagian Man Power Specification, yaitu kualifikasi dan kompetensi yang user minta untuk posisi tersebut.

Kenapa ini penting?
Karena kalau spesifikasi awalnya tidak jelas atau tidak lengkap, proses recruitment pun berpotensi tidak berjalan optimal, dan hasil akhirnya bisa dianggap “tidak sesuai harapan”.

Kalau perusahaan belum punya FPTK?
Banyak user yang hanya menyampaikan kebutuhan lewat lisan.
Kalau ini yang terjadi, HR perlu segera membuat FPTK sebagai standar.

Tanpa dokumen ini, proses recruitment jadi sangat rawan error dan pada akhirnya HR-lah yang paling mudah disalahkan.

Ingat, FPTK bukan formalitas — ini adalah fondasi objektivitas kerja HR Recruitment.


2. Review Hasil Interview HR, Interview User, dan Hasil Psikotest

Jika FPTK sudah sesuai, langkah berikutnya adalah mengecek kembali seluruh rangkaian seleksi:

  • Form interview HR
  • Form interview user
  • Hasil psikotest kandidat

Perhatikan apakah ada catatan dari proses seleksi, misalnya:

  • “Kurang tegas”
  • “Butuh pendampingan di awal”
  • “Kurang pengalaman di area tertentu”

Kalau user sebenarnya sudah menyetujui catatan ini sejak proses interview, HR perlu mengingatkan kembali bahwa kandidat dipilih berdasarkan kondisi tersebut.

Sering kali masalah muncul bukan karena HR salah merekrut, tapi karena user lupa dengan catatan yang sudah mereka setujui sebelumnya.

Peran HR adalah memastikan user tetap melihat proses secara objektif.


3. Gali dan Klarifikasi Lebih Dalam Complain dari User

Kalau FPTK sudah tepat dan proses interview sudah sesuai, namun complain tetap muncul, maka HR harus melakukan klarifikasi lebih detail.

Pertanyaan yang perlu digali:

  • Apakah ekspektasi user berubah setelah kandidat masuk?
  • Apakah spesifikasi yang diminta di awal sudah benar atau perlu direvisi?
  • Atau justru user belum melakukan proses pengembangan secara efektif kepada kandidat?

Pada tahap ini, HR bukan hanya pelaksana recruitment, tapi partner strategis bagi user.
HR perlu mengarahkan agar user menilai situasi secara komprehensif, bukan langsung menyalahkan kandidat.


Complain dari user bukan berarti proses recruitment otomatis salah.

Justru ini bisa menjadi momen evaluasi bagi HR dan user untuk:

  • Menyelaraskan ekspektasi melalui FPTK
  • Meninjau ulang spesifikasi kebutuhan
  • Menjaga objektivitas seleksi
  • Memperkuat kolaborasi HR–user

Karena recruitment bukan hanya soal mencari karyawan, tapi memastikan kebutuhan bisnis dan kapabilitas kandidat bisa selaras — The Right Man on The Right Place.

Semoga artikel ini bermanfaat! 😊
Kalau menurut kamu konten ini penting, boleh banget dishare supaya lebih banyak HR yang terbantu 💡✨